Grafis yang Bercerita; bagian 1
Posted by Lambok Hutabarat on July 20, 2010
FUNGSI INFOGRAFIS Untuk menyederhanakan data yang kompleks.
Bagaimana merancang sebuah tampilan infografis?
A. HARUS MENARIK SECARA VISUAL Gambar lebih cepat menarik perhatian orang dibanding teks. Seperti halnya foto yang menarik dan headline yang menggelitik, tugas pertama infografis adalah menarik perhatian pemirsa, untuk kemudian membuat mereka membaca tulisannya. Jadi, rencanakanlah visual terlebih dahulu.
B. BUATLAH SAJIAN YANG RINGKAS Infografis yang ideal hanya terfokus pada satu ide bahasan. Tidak berarti bahwa Anda harus menyajikan sesedikit mungkin data, namun sebaiknya menyortir data agar makin terfokus pada topik utama. Informasi tambahan bisa disajikan dengan tanpa mengganggu sajian visual topik utama (itu pun dibatasi hanya data-data yang mendukung topik utama).
Contoh 1: Di samping ini adalah ilustrasi kompor sekam. Tulisan utama dalam artikel ini bercerita tentang alternatif bahan bakar untuk kompor yang dibuat secara tradisional. Nah, data-data dalam tulisan utama tidak dimunculkan ulang dalam infografis. Biarlah infografis sendiri bercerita secara visual tentang bagaimana sebenarnya cara kerja kompor tersebut. Untungnya memang cara kerja kompor ini cukup ringkas, sehingga tidak diperlukan gambar lain (yang bisa memecah perhatian). Seluruh cerita harus selesai dalam satu sajian visual. Catatan: bentuk kompor dibuat dengan program Adobe Illustrator, kemudian dipoles di Photoshop untuk menampilan kesan tiga dimensi, efek api, foto montase sekam, dan pewarnaan.
C. PERKIRAKAN UKURAN VISUAL Data yang sangat bervariasi biasanya sulit untuk disandingkan satu sama lain. Jadi desainlah informasi tersebut agar pembaca tidak kesulitan mengkomparasi data yang satu dengan yang lainnya.
Contoh 2: Gambar di samping kanan adalah potongan dari suplemen poster bulutangkis NGI edisi Mei 2010. Infografis tersebut membandingkan besar hadiah uang di kejuaraan dunia bulutangkis; lingkaran warna biru, dan besar hadiah kejuaraan dunia tenis; lingkaran warna abu-abu. (Silahkan klik untuk gambar yang lebih besar) Tanpa harus menganalisa data kongkret dalam angka, pembaca dalam waktu singkat sudah bisa mendapat gambaran bahwa bayaran pemain bulutangkis jauh lebih sedikit dibanding pemain tenis. Catatan: Bentuk lingkaran dirasa paling cocok untuk menganalogikan jumlah uang. Besarnya diameter lingkaran tersebut dibuat dalam Adobe Illustrator. Dalam program ini terdapat fasilitas untuk mengubah besaran angka ke dalam indeks grafis. Bentuk lingkarannya sendiri memang tidak disajikan penuh karena keterbatasan tempat. Lagipula toh pembaca sudah bisa mendapatkan garis besarnya. Oh ya, infografis ini juga sangat menekankan poin “B” di atas; yaitu membuat bentuk yang sesederhana mungkin. Tidak perlu membuat efek tiga dimensi, atau tergoda membubuhkan warna yang ekstrim. Well, ok… di luar sana banyak desainer yang “maksimalis”. Belum puas bila bentuk dan warnanya belum “menusuk” mata. Ya silahkan saja. Toh, seekstrim apapun desainnya, infografis yang berhasil adalah yang bisa menyajikan data yang akurat.
D. BANGUNLAH SAJIAN DATA YANG MUDAH DICERNA Pembaca tidak seharusnya berpikir terlalu keras agar bisa menangkap informasi yang kita sajikan. Lebih baik bila infografis bisa segera dipahami tanpa harus membaca legenda. Bila memang harus ada legenda, buatlah sesedikit mungkin agar pembaca tidak harus bolak-balik antara membaca infografis dan membaca legenda.
Contoh 3: Di samping kiri ini (silahkan klik untuk gambar yang lebih besar) adalah potongan poster peta wisata Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk NGI edisi Oktober 2009. Ada dua jenis legenda dalam infografis peta ini, yaitu panduan administrasi wilayah, serta keterangan ikon tempat wisata. Hal seperti ini sedikit banyak “melelahkan”, karena untuk memahami peta pembaca harus bolak-balik antara peta utama dan dua legenda yang berbeda. Memang saat itu kesulitan kami adalah menangani begitu banyak informasi yang ingin ditampilkan dalam peta ini. Walaupun beberapa informasi telah kami sortir, namun tetap saja secara keseluruhan peta menjadi mandeg karena kelebihan muatan informasi yang harus disajikan. Akhirnya kami memecah ke dalam dua sajian peta, yang disajikan secara bolak balik. Satu sisi yang berhubungan dengan wisata daerah (gambar contoh nomor 3), dan peta informasi tata guna lahan (gambar contoh nomor 4 di bawah ini).
Contoh 4: Peta ini (silahkan klik untuk gambar yang lebih besar) lebih fokus karena hanya bercerita tentang eksplorasi bumi di wilayah Garut. Hanya ada satu macam legenda, yaitu tentang pemanfaatan lahan. Nah, seperti Anda lihat, visual di sisi ini pun tidak kalah rumit karena menampilkan citra satelit. Bayangkan bila informasi wisata di sisi sebaliknya harus digabungkan dengan sisi ini, tentu akan amburadul, dan sajian peta tidak akan bisa “indah” lagi.
E. BUATLAH DATA YANG TRANSPARAN Ingatlah bahwa informasi yang kita berikan bisa mengarahkan pembaca ke dalam asumsi yang salah. Jadi, pastikan bahwa data-data yang disajikan valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Selayaknya pembaca juga bisa mengkases sumber-sumber informasi yang menjadi acuan infografis kita. Jadi, cantumkanlah kreditasi dalm tiap sajian infografis kita.
F. HARUS UNIK Memang benar, tampilan grafik batang, grafik kue, dan grafik garis adalah juga merupakan tampilan infografis. Namun pleaaassseeee diolah lagi agar tetap tampil unik.
Contoh 5: Kedua grafik di atas bercerita dengan gaya yang sama. Yang kiri adalah ‘grafik batang’ yang paling sering kita jumpai. Bercerita tentang perkembangan jumlah bangunan di seputar candi Borobudur. Walau berusaha dipermak dengan warna-warna yang manis, namun tetap membosankan. Yang kanan adalah grafik produksi padi, singkong, dan jagung dalam ton. Ini awalnya juga adalah ‘grafik batang’ namun diimbuhi bentuk-bentuk lain agar tampil lebih unik dan lebih menarik pembaca.
……………………………………………………………………………………………………………..
Nantikan ulasan infografis berikutnya.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »

